Thursday, December 30, 2021
Final Piala AFF 2020: Timnas Garuda Babak Belur di Hajar Tim Gajah Putih Thailand
Monday, December 27, 2021
Restorasi Sepakbola di Tim Nasional Era Shin Tae-yong
Sunday, December 26, 2021
Benzema and Courtois, Finalis Globe Soccer Awards 2021
Pemain depan Real Madrid asal Prancis, Karim Benzema termasuk di antara nominasi untuk penghargaan Pemain Terbaik Pria Tahun Ini. Sementara itu, penjaga gawang andalan asal Belgia, Thibout Courtois masuk dalam persaingan untuk penghargaan Penjaga Gawang Terbaik Tahun Ini.
Benzema, penyerang yang paling subur di tim Real Madrid tahun ini akan bersaing mendapatkan penghargaan Pemain Terbaik Pria Tahun ini dengan bintang-bintang dunia lainnya seperti Lionel Messi, Kylian Mbappe, Robert Lewandowski, Cristino Ronaldo dan Mohamed Salah.
Sementara itu, Courtois masuk dalam daftar lima besar untuk penghargaan Penjaga Gawang Terbaik Tahun Ini, di mana ia menghadapi persaingan dari Gianluigi Donnarumma, Emiliano Martínez, Edouard Mendy dan Manuel Neuer.
Kedua andalan Los Blancos tersebut akan masuk dalam calon penghargaan Sepakbola Dunia 2021, yang dipilih oleh para penggemar sepakbola dunia di Dubai pada tanggal 27 Desember 2021.
Globe Soccer sendiri adalah ajang penghargaan yang digagas Asosiasi Klub Eropa (ECA) dengan Asosiasi Agen Pemain Eropa (EFAA). Cristiano Ronaldo adalah pemegang gelar terbanyak Globe Soccer Award yang telah digelar sejak tahun 2010. Ronaldo memperoleh penghargaan pada tahun 2011, 2014, 2016, 2017, 2018 dan 2019. Sementara Lionel Messi baru sekali memenangkannya yakni pada tahun 2015.
Akankan duo andalan Los Blancos ini akan mendapatkan penghargaan Globe Soccer tersebut??
Kita tunggu...
Hala Madrid..
Thursday, December 23, 2021
Ancelotti: “Kemenangan Ini Sangat Berharga Bagi Kami”
“San Mamés adalah stadion dengan atmosfer yang luar biasa dan tepuk tangan untuk Benzema sangat luar biasa”, kata sang pelatih Real Madrid, Carlo Ancelotti berbicara kepada pers setelah Los Blancos meraih tiga poin di San Mamés. Real Madrid menang dalam pertandingan melawan tuan rumah Atletico Bilbao dengan skor akhir 1-2.
Don Carlo lebih lanjut mengatakan :“Ini adalah kemenangan besar bagi kami karena saya pikir kami memberikan kinerja yang lengkap dengan tim yang belum terbiasa dengan begitu banyak waktu bermain akhir-akhir ini. Saya benar-benar harus menggarisbawahi upaya Nacho, Lucas Vázquez, Camavinga, Valverde, Hazard, yang tidak terlalu banyak bermain tetapi muncul hari ini dan melakukan perubahan yang luar biasa.
Itu adalah permainan berkualitas tinggi untuk sebagian besar dan mereka menunjukkan komitmen yang besar. Itu hal yang paling penting bagi saya, hampir sebanyak 3 poin, yang pada akhirnya adalah yang terpenting".
“Selebrasi yang kami lakukan telah menjadi kebiasaan dalam beberapa pertandingan terakhir dan tepuk tangan untuk Karim sangat luar biasa. Ini adalah lapangan dengan atmosfir yang indah, saya sangat menyukainya dan Karim pantas mendapatkannya”, tambah Ancelotti.
Upaya bertahan Hazard dan Vini Jr.
Menyinggung penampilan dari Eden Hazar dan Vini Jr yang diturunkan dari menit awal, Ancelotti memberikan catatan khusus, “Mereka memahami apa yang dibutuhkan tim dari mereka dalam arti defensif. Mereka melakukan pekerjaan yang hebat. Mereka bekerja keras dan menunjukkan komitmen dan kemudian membawa kualitas nyata ke permainan menyerang, terutama sejak awal. Perbedaannya, seperti yang telah kami katakan sebelumnya, adalah dalam bertahan. Tim ini tahu bagaimana untuk maju, kami dapat mencetak gol karena kami memiliki individu-individu yang luar biasa tetapi kami sedikit kesulitan di sisi lain, tetapi kami telah melakukan pekerjaan dengan baik sejauh ini".
“Hazard penting bagi tim. Memang benar bahwa pada level individu dia bermain lebih baik dalam pertandingan ini, pada saat saya tidak yakin tentang dia secara fisik, tetapi dia melakukannya dengan baik, saya menggantikannya di babak kedua. Dia berjuang , dia mencoba berbagai hal di atas. Dia kembali, ya. Dia kembali", imbuh Ancelotti.
Pada pêrtandíngan Kamis dini hari waktu Indonesia Barat,
Pelatih asal Italia ini melakukan beberapa rotasi pemain. Untuk hal ini Ancelotti memberikan catatan khusus. "Saya mengucapkan selamat kepada semua pemain setelah pertandingan dan saya mengatakan kepada mereka sesuatu yang sangat penting: sulit bagi saya untuk menempatkan pemain ini di bangku cadangan. Saya memiliki pemikiran itu setiap pertandingan, sulit untuk meninggalkan pemain dengan kualitas begitu banyak dan pemain hebat seperti itu. sikap. Saya selalu berusaha untuk mengeluarkan tim yang menurut saya bisa memenangkan pertandingan”, ujar Carlo.
Pertandingan melawan Bilbao ini merupakan pertandingan terakhir yang dilakoni oleh Madrid sebelum tutup tahun 2021. Berikutnya mereka akan bermain tanggal 2 Januari 2022 bertandang ke Getafe. “Kami telah melakukannya dengan sangat baik sejauh ini, para pemain telah melakukannya dengan cemerlang, dan hanya itu. Kami akan mengambil stok di akhir musim tetapi sejauh ini berjalan dengan sangat baik. Kami akan mencoba memenangkan sesuatu karena itulah yang terjadi. tuntutan klub dan kami harus menunggu sampai akhir musim. Kami punya waktu satu minggu untuk istirahat sekarang, itu memang pantas. Saya mengucapkan Selamat Natal dan sampai jumpa tahun depan”, ungkap Carlo Ancelotti menutup pembicaraan.
Monday, January 24, 2011
Liga Belia 2010 untuk Liga Anak U10 dan Liga Pemula U12 Berakhir
Setelah berjalan selama lebih kurang 11 bulan dalam 22 minggu (partai), akhrinya Liga Belia 2010 untuk Liga Anak U 10 dan Liga Pemula U12 yang digagas oleh Lembaga Sekolah Sepakbola Senayan Jakarta resmi berakhir.Minggu kemarin 23/1, merupakan partai di minggu ke-22 bagi 12 Sekolah Sepakbola peserta Liga Belia.
Sebuah Liga yang dibangun dengan semangat gotong royong tanpa sponsor dan tanpa dukungan dari pihak-pihak yang berkompeten, ternyata para pengurus LSSB dan Pengurus SSB peserta, dapat menyelesaikan niat mereka bersama, untuk memberikan wadah bertanding bagi anak didik mereka.
Bahkan, dibawah kendala lapangan yang tidak menentu, pelaksanaan Liga ini selesai juga. Sementara pihak-pihak lain yang seharusnya bertanggungjawab untuk membina calon-calon pemain masa depan ini, tidak memberikan kontribusi apapun.
Namun, dari pelaksanaan ini, yang patut dibanggakan adalah animo para orang tua siswa, siswa, dan para pembina SSB peserta Liga. Sampai pertandingan terakhirpun mereka tetap loyal untuk hadir di lapangan yang sebenarnya sudah tidak layak digunakan untuk pertandingan.
Selain itu animo masyarakat sepakbola Jabotabek untuk ikut serta juga sangat tinggi.
LSSB Senayan Jakarta, rencananya akan menggulirkan kembali Liga Belia Musim 2011. Diperkirakan, musim 2011 akan diikuti oleh sekurang-kurangnya 24 SSB yang akan memulai kick off pada tanggal 20 Februari 2011.
Sedikitnya ada 30an SSB yang sudah mengajukan surat secara resmi untuk mengikuti Liga Belia musim 2011. Pengurus LSSB akan melakukan verifikasi dan akan menetapkan total 24 SSB (termasuk 12 SSB yang lama) untuk ikut pada musim 2011.
Terima kasih yang tak terhingga dapat disampaikan kepada seluruh panitia dan komponen yang terlibat dalam pelaksanaan Liga ini. Semoga ini bukan akhir dari perjuangan bersama namun adalah awal dari perjalanan seorang pemain sepakbola Indonesia di masa depan.


Monday, August 9, 2010
Klasemen Putaran Pertama Liga Belia 2010


Ini Klasemen Sementara Liga Belia 2010 yang diselenggarakan oleh LSSB Senayan Jakarta.

Info lainnya silahkan dilihat di www.lssb-jakarta.com
Monday, June 28, 2010
16 Besar Piala Dunia 2010 - Pembuktian Kedigdayaan Amerika Selatan

Babak 16 Besar Piala Dunia 2010 Afrika Selatan akan dimulai malam nanti. Ditandai pertarungan sengit antara aUruguay melawan wakil Asia, Rep. Korea, dan Amerika Serikat melawan satu-satunya wakil Afrika yang tersisa yaitu Ghana.
Ada hal yang menarik dari tim-tim yang lolos ke Babak 16 Piala Dunia tahun ini. Dari sebaran tim yang lolos, Eropa ada 6 wakilnya dari 13 Tim, Asia 2 tim dari 4 tim yang ke Afsel. Afrika tim dari 6 tim yang dikirim. Zona Amerika Tengah/Utara 2 tim dari 3 tim utusan, Oceania tidak meloloskan wakil dari 1 tim yang ikut ke Afsel.
Yang mengejutkan adalah Zona Amerika Selatan. Dari lima wakil yang dikirim ke Afsel, semua tim mengambil tempat di Babak 16 besar. Tim tersebut adalah Juara Dunia 5 kali Brasil, Juara Dunia 2 kali Uruguay dan Argentina. Kemudian Paraguay dan Chile.
Kelima wakil tersebut tersebar dalam skema pertandingan Babak Knock Down Piala Dunia kali ini. Hasil kontras diperoleh wakil Afrika. Dari 6 wakilnya, hanya menyisakan Ghana. Zona Eropa juga menurun hanya menempatkan 6 wakil. Sementara Asia, meloloskan 2 tim, meningkat dari tahun 2006 yang tidak meloloskan satu tim pun.
Jika di lihat dari hasil ini, suksesnya tim Amerika Selatan di Afsel tahun ini, salah satunya diyakini setelah Conmebol merubah sistem kualifikasinya sejak beberapa kali penyelenggaraan Piala Dunia sebelumnya. Saat ini Conmebol membuat sistem kualifikasi jangka panjang dengan pola kompetisi penuh home and away bagi seluruh tim pesertanya. Sistem ini menjadikan adanya percepatan pemerataan kekuatan di Afrika Selatan. Akankan ini akan menjadikan Juara Dunia ini dari Amerika Selatan. Kita tunggu 11 Juli mendatang.
Tanpa Bantuan Teknologi, Sepakbola Menjadi Indah
Ada hal filosofi yang mendasar yang melatar belakangi mengapa FIFA tetap bersikukuh untuk tidak menggunakan teknologi dalam (membantu) mengambil keputusan dalam sebuah pertandingan sepakbola.Salah satu kunci mengapa sepakbola menjadi permainan yang disukai dan oleh hampir sebagian besar penduduk planet ini adalah dimana aturan permainan FIFA itu bisa diterapkan oleh semua orang dimuka bumi ini.
Filosofi ini yang ingin tetap dipertahankan oleh FIFA. Jika Piala Dunia atau FIFA mengamini penggunaan teknologi dalam pengambilan keputusan, maka sepakbola tidak lagi menjadi olahraga yang universal. Sepakbola akan menjadi olahraga yang ekslusif. Olahraga yang hanya bisa dilakukan di daerah atau di negara-negara yang mempunyai teknologi tinggi. Dan ini akan membuat sepakbola menjadi tidak useble lagi di seluruh kalangan.
Sekarang ini, aturan permainan dari level paling bawah sampai level Piala Dunia tidak ada pengkhususan aturan. Jika FIFA mengakomodir penggunaan teknologi apalagi sampai mewajibkan, bagaimana dengan pertandingan resmi FIFA antara negara atau klub terpencil di Afrika atau Oceania. Akhirnya akan ada ekslusifitas dari sepakbola sendiri.
Ditolaknya penggunaan teknologi oleh FIFA ini akan tetap menjadikan sepakbola menjadi menarik dan tetap menjadi perdebatan. Persoalan kesalahan manusia (wasit) yang memimpin, akan ada mekanisme sendiri untuk menghukumnya.
Apa yang telah diputuskan wasit, itulah sepakbola dan harus ditaati. Apa jadinya jika keputusan wasit bisa dianulir oleh teknologi, sehingga perayaan kemenangan menjadi tidak menarik dan hambar.
Biarlah sepakbola tetap menjadi kontroversi, karena kontroversi itulah sepakbola menjadi hidup. (ainul ridha)
Monday, June 15, 2009
BEBERAPA CATATAN TENTANG FILM KCB
Berikut ini, aku mencoba menuliskan beberapa catatan tentang sebuah film yang sedang tayang di Bioskop-bioskop tanah air. Catatan ini bukan dimaksudkan untuk menggiring orang, namun hanya sebagai catatan apa yang aku tau dan apa yang aku rasakan terhadap Film ini. Dan saat tulisan ini ditulis, aku belum menonton film ini. Catatan ini pernah didiskusikan di wall (dinding) facebuk Can Yunazar tanggal 13 Juni 2009, terima kasih Can untuk wallnya.
Catatannya adalah sebagai berikut. :
1. Promosinya sudah terlalu lama. Semenjak diadakannya audisi besar-besaran terhadap calon pemeran film ini. Karena terlalu lama, sehingga bisa sampai pada titik jenuh. Dalam prinsip marketing, promosi yang dilakukan mencapai klimaks pada saat produksi belum mencapai puncaknya yaitu saat penayangan. Akhirnya dikhawatirkan hasilnya menjadi prematur dan antiklimaks. Sangat disayangkan kalau ini terjadi.
2. Ada kesan produksi film KCB ini didasari oleh ketidakpuasan kepada besarnya untung yang diperoleh oleh Produser Ayat-ayat Cinta (AAC), sehingga KCB diproduksi. Demikian juga karena ketidakpuasan terhadap bintang AAC, dengan berbagai alasan. Sehingga diadakanlah kegiatan audisi yang besar-besaran. Ada prinsip profesionalitas yang terabaikan, bahwa segala sesuatu itu diserahkan kepada yang menguasai hal itu. Dan lagi, setiap orang itu punya rezeki masing-masing. Artinya ada rezeki orang lain yang tergantung ke cerita itu.
3. Mengapa harus mengagungkan Mesir? Untuk apa menghabiskan devisi kita untuk memproduksi di Mesir. Seperti diketahui, biaya produksi di Mesir itu sangat besar. Pengalaman yang didapat waktu produksi AAC, menyatakan bahwa biaya produksi di Mesir sangat besar. Ini tidak sejalan dengan kondisi negara kita yang sedang menggalakkan produksi dalam negeri dan menghindari capital flight. Dalam dunia sinematografi, yang penting itu adalah penggambaran bukan lokasi yang riil. Kalau konsepnya seperti KCB, berarti Arnold Schwarzineger harus pergi ke Mars untuk membuat Total Recall. Rekayasa penggambaran yang sempurna dalam menterjemahkan sebuah cerita adalah sebuah Seni tersendiri dalam Sinematografi.
4. Apakah tidak ada lagi lokasi yang eksotis di Indonesia untuk produksi Film. Kalau tentang cerita, apapun bisa dibuat. Di saat orang lain sangat mengagumi keindahan alam kita dan berlomba-lomba untuk melakukan shooting di negara kita, kenapa kita malah mencarinya keluar.
5. Cerita sebuah film dapat dibuat beragam-ragam, tapi tidak terikat dengan lokasi. Jika mengambil tema dan alur yang sama dengan KCB sekarang, itu bisa ganti settingnya dengan setting UIN mungkin tidak perlu Al Azhar, kalau yang dikejar itu adalah ceritanya. Sebagaimana banyak film hollywood yang ceritanya diambil oleh Bollywood.
6. Film bukan media Dokumenter, tapi kekuatannya di cerita. Jadi persoalan lokasi itu tidak terlalu penting. Tapi karena dibuat di luarnegeri, tidak sejalan dengan issu nasionalisme yang sedang berkembang.
7. Film itu adalah bahasa gambar. Kalau bahasa Dokumenter adalah bahasa realita. Kalau logika seperti ini yang dipakai, mungkin Kota New York itu sudah hancur lebur oleh Kingkong. Dalam sinematografi itu yang penting adalah penggambaran terhadap cerita itu logis dan masuk akal, karena yang kita lihat hanyalah visual dua dimensi. Ini yang diabaikan dan sangat dipaksakan.
Kekuatan AAC adalah bagaimana perjuangan pembuat filmnya untuk menterjemahkan ceritanya sehingga orang menjadi tertarik untuk menonton. Bagaimana orang ingin melihat seperti apa Nil yang dicoba untuk ditampilkan yang sebenarnya orang tau itu bukan Nil. Proses bagaimana pencarian ide agar sesuai dengan bentuk aslinya ini, merupakan sebuah nilai plus dalam proses marketing sebuah film. Bagaimana Hanung Bramantyo (HB) menyulap sebuah gerbong yang bergerak, padahal itu digoyang beramai-ramai oleh kru.
8. Ada perbedaan antara sinematografi dengan seni prosa (tulisan/karangan). Sehingga antara pengungkapan cerita melalui bahasa audio visual dengan bahasa prosa itu sangat berbeda. Kita melihat bagaimana Andrea Hirata (AH) begitu terkagum melihat penterjemahan novel dia ke dalam bahasa gambar oleh Tim Miles. Dan AH tidak campurtangan dalam penulisan skenario. Tapi apa yang kita lihat dalam KCB. Ketika AAC, jelas sekali Habiburrahman el Shirazy (HeS) penulis AAC, tidak puas dengan terjemahan ke dalam Film oleh Hanung Bramantyo (HB) dkk. HeS ingin Copy Paste dari cerita novelnya ke dalam Film. Sementara HB berusaha menyesuaikan cerita ke dlm Film dgn prinsip sinematrografi. Sehingga ketika proses KCB, peran HeS sangat dominan untuk mengintervensi proses penulisan cerita film, padahal HeS ini bukan orang film tapi penulis novel. Hal inilah yang membuat aku juga menjadi underestimate terhadap film ini.
Setelah mendengar cerita dari teman-teman yang sudah menonton maka didapat beberapa catatan lagi:
9. Film ini sepertinya bermasalah dalam sinematografi. HeS sepertinya memaksakan pola Novel ke dalam pola film apalagi Film Layar Lebar. Ada perbedaan mendasar antara film layar dengan film layar kaca atau film berseri.
Film layar kaca atau yang lebih dikenal dengan FTV, disini fokusnya lebih kepada jalan cerita. alurnya cepat, karena perilaku orang nonton televisi sangat bebas. Untuk mengikat penonton maka harus diiringi dengan jalan cerita yang ketat. Kalau film berseri, memang orang akan digiring untuk penasaran. Sehingga orang mempunyai keinginan lagi untuk nonton berikutnya. Ini lah sinetron. motivasinya adalah bisnis. Sementara layar lebar, orang mengharapkan sebuah tontonan yang tuntas. Artinya dalam satu kali nonton bioskop itu, org disuguhi sebuah cerita yg tuntas. Untuk kasus KCB, ini layaknya sinetron di layar lebar. Memang banyak film layar lebar yang bersambung, tapi masing-masing filmnya menyuguhkan cerita yg tuntas, sebut saja Harry Potter, Terminator, Lord of Ring. Jadi, dalam film layar lebar, satu permasalahan yang ditampilkan itu harus tuntas, agar orang keluar dari bioskop itu benar-benar terpuaskan. Sifat penonton layar lebar adalah penonton aktif, dimana mereka dengan kesadaran sendiri datang untuk menyaksikan suguhan yang menghibur.Ini akan menjadi kekecewaan ketika orang keluar dari bioskop dengan menggerutu karena ada kata-kata to be continue...
Dalam kasus KCB, terlihat kesan bahwa ada pihak yg ingin mencoba menangguk keuntungan besar. Padahal belum tentu akan untung. Hanya melihat keuntungan besar dari AAC dan LP, maka seakan-akan akan bisa menarik keuntungan dari KCB dan dengan KCB 2.
Aku memberikan apresiasi yang tinggi kepada HeS sebagai seorang yang telah menghasilkan karya-karya besar dalam bidang penulisan karya sastra di tanah air saat ini, khususnya sastra yang islami. Tapi, sebaiknya HeS jgn mencampuri soal sinematografi. Berikanlah itu kepada ahlinya sehingga hasilnya memang layak secara sinematografi. Apa yang dilakukan Hanung adalah sangat fantasis dalam hal sinematografi. Bagaimana caranya HB berusaha menterjemahkan isi AAC. Dan hasilnya dapat kita lihat bagaimana respon masyarakat terhadap AAC.
Catatan ini bukanlah sebuah kebencian terhadap KCB. Ini adalah Mega Film. Karena ini mega film, makanya harus ada kritik, agar karya besar tidak menjadi mubazir. Kritik itu harus dijawab dengan hasil karya yang bagus & lebih sempurna, agar karya itu betul-betul sempurna. Malah, kritik itu harus sudah dimulai dari munculnya ide cerita. Inilah yang dilakukan oleh Miles dkk. Dimana dalam proses penulisan kritik & diskusi untuk perbaikan itu sudah sangat dominan, bahkan sampai tahap post produksi.
Tentang adil atau tidak kritik yang ditujukan, mengingat filmnya baru ditayangkan di bioskop, ketika sebuah karya diumumkan ke publik, saat itulah karya itu terbuka untuk dikritik. Kalau tidak mau dikritik, ya tidak usah dimunculkan ke publik. Simpan saja lah di harddisk atau di museum. Soal etis atau tidak, kritik yang di sampaikan Insya Allah mengemukakan alasan-alasan, dan bukan kritik dengan makian. Dan kritik aku juga terbuka untuk di kritik lagi.
Prinsip diskusi bermanfaat adalah diskusi dengan moderat dan dilandasi oleh semangat kesetaraan, dan yang paling penting adalah saling tukar menukar informasi. Untuk itu, catatan-catatan diatas sangat terbuka untuk didiskusikan.
Bagi yang sudah menonton mudah-mudahan bisa jadi bahan perbandingan. Bagi yang belum menonton, silahkan menontonnya untuk pembuktian. Aku tidak dalam posisi untuk menganjurkan atau menghalangi untuk menonton film ini. Andalah yang menentukan apakah mau menonton sebuah film atau tidak.
Sekali lagi, selamat atas penayangan KCB di bioskop-bioskop. Semoga menambah panjang daftar film-film yang bagus di tanah air. Mohon maaf kalau ada yang tersinggung dan kata-katanya kurang berkenan.
Tuesday, May 26, 2009
detikcom : Olimpiade China Bawa Untung Besar bagi Perusahaan China
summary : Majalah Forbes merilis daftar baru perusahaan-perusahaan terbaik di Asia dengan nilai penjualan di bawah US$ 1 miliar. Perusahaan-perusahaan asal China dan Hong Kong terus merajai daftar. (read more)
Saturday, November 22, 2008
Prestasi Timnas Cerminan Pola Pembinaan (Jangan Salahkan Benny Dollo)

Bagi sebagian pencinta sepakbola di tanah air, hasil tim nasional senior dalam kejuaraan Grand Royal Challenge Cup di Myanmar minggu lalu adalah buruk. Tapi ada juga yang menilai hasil ini adalah hasil yang wajar, kejuaraan ini dianggap hanya sebagai pemanasan sebelum Piala AFF. Namun kalau kita melihat secara jernih, kita harus prihatin dengan kondisi ini.
Hasil ini memperlihatkan bahwa untuk kawasan Asia Tenggara saat ini kita yang sudah tertinggal dari Thailand dan Singapura sekarang tidak mampu mengatasi Myanmar. Sementara dengan Vietnam, Laos dan Malaysia masih saling mengalahkan.
Jika kita tidak waspada dan berbenah, bukan tidak mungkin kita juga akan ditinggalkan Vietnam, Laos dan Malaysia dan bahkan akan dikejar oleh Kamboja, Filipina atau Brunei sekalipun. Artinya kita sebagai negara yang berpenduduk paling banyak dan wilayah paling luas di Asia Tenggara menjadi negara yang paling kecil dalam sepakbola
Mengapa hasil tim nasional kita terus menurun dari waktu ke waktu? Padahal dalam dua tahun terakhir, timnas Indonesia telah berganti pelatih sebanyak tiga kali. Mulai dari Peter White, Ivan Kolev dan terakhir Benny Dollo. Hasilnya tetap tidak membaik. Komentar terhadap kualitas dan posisi pelatih mulai bermunculan.
Sebenarnya, siapapun yang menjadi pelatih Timnas Indonesia tidak akan merobah keadaan. Yang menjadi masalah itu bukanlah pelatihnya. Tapi adalah bahan baku pemain. Ibarat orang mau memasak, makanan itu akan lezat jika bahan bakunya berkualitas. Bahan yang ditanam oleh petani atau peternak yang telaten mengurusnya, dengan pemupukan dan pemeliharaan yang baik dan teratur. Dari hasil itulah dipilih bahan baku yang terbaik kemudian diolah oleh tukang masak yang handal. Maka terhidanglah makanan yang lezat dan memuaskan para penikmatnya.
Begitu juga dengan prestasi Timnas yang merupakan perwujudan atau cerminan dari pola pembinaan sepakbola suatu negara mulai dari usia yang sangat dini. Dan kompetisi adalah bentuk pola pembinaan yang terbaik itu. Ini saling berkait dan jangan dibalik. Kalau orang mengatakan bahwa hanya kompetisi profesional yang mencerminkan prestasi Tim Nasional, ini akan terbantahkan dengan kasus persepakbolaan Inggris saat ini. Tapi pola pembinaan usia dini melalui kompetisilah yang baik dan teraturlah yang menjadi kunci keberhasilan prestasi sebuah tim nasional.
Sekarang yang banyak di Indonesia adalah pemain yang ngotot tapi minim skill, dan pemain yang kaya teknik tapi miskin mental bertanding. Kedua masalah ini adalah perwujudan dari pola pembinaan tadi, dan hanya bisa diatas dengan membangun pola pembinaan sepakbola masa depan yang baik dari usia dini melalui kompetisi yang ketat dan teratur.
Prosesnya tidak bisa sebentar, butuh minimal 12-15 tahun. Ini dengan asumsi jika kita mulai sekarang pada anak-anak usia 12 tahun, maka 12-15 tahun mendatang mereka berusia 24-27 tahun. Ini adalah masa keemasan bagi pemain sepakbola. Di saat inilah kita baru bisa melihat hasilnya.
Kapan kita bisa mencapai itu? Pertanyaannya kapan kita melakukan pembinaan mulai usia 12? Dari situlah kita mulai berhitung. Jika kita tidak pernah tahu kapan mulainya, berarti tambah mundurlah waktu "panen"nya. Dan pembinaan itu haruslah melalui mekanisme kompetisi. Bukan melalui pelatnas.
Hasil yang dicapai tim nasional saat ini, membantah pola pembinaan sepakbola nasional selama ini. Di mana kita sering membuat pelatnas-pelatnas jangka panjang untuk kelompok umur. Kita pernah membuat pelatnas pemain yunior di Medan dengan tim pelatih yang didatangkan dari Inggris dibawah kepemimpinan Jim Bryden. kemudian pernah tim yunior U23 dikirim ke Belanda yang ditangani oleh pelatih kenamaan dari Belanda Foppe De Haan.
Bahkan dalam saat itu dalam sebuah wawancara, pelatih Foppe De Haan mempunyai kesimpulan dan menjadi judul berita dengan kop yang besar. “Mereka tidak tahu caranya mencetak gol!" (Sindo 2/8/06)
Hasil binaan pelatnas ini yang menjadi pilar tim nasional saat ini. Hasilnya tidak seperti yang diharapkan, dan malah membenarkan kesimpulan dari De Haan. Artinya pola pembinaan yang dilakukan selama ini bukan pola pembinaan yang ideal dan benar. Yang menjadi kebutuhan saat ini adalah, bagaimana menciptakan pembinaan sejak usia dini melalui jalur kompetisi yang ketat dan teratur. Barulah kita bisa berharap prestasi kepada tim nasional sepakbola kita.
Jadi, kalau kita meminjam sebagian ungkapan yang sering disampaikan oleh seorang Dai kondang beberapa tahun yang lalu, Indonesia harus merobah pola pembinaan sepakbolanya mulai dari usia dini, mulai dari area yang kecil dan mulai dari sekarang. Jika tidak, kita akan semakin tertinggal, terpuruk dan semakin terperosok ke dalam jurang yang lebih dalam.
Wednesday, September 24, 2008
Kinerja Wasit Indonesia, Ekses dari Sistem Kompetisi

Di setiap pergelaran Liga Indonesia ataupun pertandingan-pertandingan sepakbola lainnya di Indonesia, wasit selalu dianggap menjadi penyebab terjadinya kericuhan. Padahal kita tidak pernah tahu proses ideal lahirnya seorang wasit. Sistem kompetisi di tanah air lah yang mempunyai kontribusi terhadap kualitas wasit yang memimpin.
Jika mendapatkan seorang pemain bagus dan berkualitas tidak bisa hanya dengan melatih dia bertahun-tahun. Tapi berlatih dan bertanding yang teratur. Begitu juga dengan Wasit. Tidak ada Pil yang mujarab, tidak ada sekolah yang paten untuk melahirkan seorang wasit langsung jadi. Banyak aspek yang mempengaruhi. Tapi bisa digolongkan kepada 3 hal besar :
1. Input
2. Proses
3. Suistainability (keberlanjutan).
Input adalah dari mana si wasit itu berasal. Kalau di negara maju, wasit itu dididik dari saat dia duduk di bangku kuliah. Makanya banyak wasit yang sudah TOP di Eropa itu berprofesi sebagai Banker, pengacara, manager dll. Secara intelektualitas sangat bagus dan mereka sudah mapan. Sistem pendidikan disana juga berbeda dengan kita, faktor kepemimpinan juga mempengaruhi si calon wasit itu. Dan lagi, bagi mereka menjadi wasit hanya sampingan dan hobby.
Bahkan di Amerika Serikat, wasit dimulai dari umur 14 tahun. mereka itu memimpin kompetisi kelompok umur 12 tahun. Umur 18 tahun memimpin umur 16 tahun. Jadi mereka juga ada jenjang sendiri mengikuti jenjang pemain. Untuk menjadi wasit pun mereka menjalani psikotes selain test fisik
Sementara di Indonesia, wasit itu berasal dari pengangguran, tentara atau guru (guru olahraga). Yang penting pintar lari maka loloslah jadi wasit. Karena kekurangan pertandingan yang reguler, orang-orang yang berintelektualitas yang tinggi menjadi malas untuk jadi wasit.
Yang kedua adalah proses. Wasit kita setelah dapat sertifikat C3, karena tidak jelasnya pertandingan, sehingga mereka memimpin Tarkam. Disini mental mereka sudah dirusak. Jadwal memimpin juga tidak pasti. Sehingga jam memimpin mereka menjadi minim. Idealnya seorang wasit dengan lisensi C3 itu memimpin pertandingan resmi minimal 40 kali setahun untuk level Pengcab (perserikatan) dan dia harus melaluinya selama 2 tahun.
Setelah 2 tahun naik ke Lisensi C2 dengan ikut kursus peningkatan lisensi. Setelah lulus dan memiliki Lisensi C2, maka dia juga diharuskan memimpin minimal 40 kali dalam 1 tahun untuk level Pengda. Ini juga harus dilalui si Wasit idealnya minimal selama 2 tahun, setelah itu baru dia bisa ikut Kursus C1 untuk wasit nasional dan berhak memimpin di Liga Indonesia. Namun tidak semua yang ikut kursus akan lulus begitu saja. Ada juga yang lulus bersyarat.

Inilah proses ideal yang harus dilalui oleh seorang wasit untuk bisa memimpin di liga Indonesia. Prakteknya bagaimana?
Kita tahu kalau tidak ada kompetisi yang teratur di Indonesia. Sudah barang tentu tidak ada wasit yang bisa memenuhi standar minimum tersebut diatas. Jadi mereka setelah lulus C3, memiimpin sekali-sekali, namun rajin latihan lari. karena standarnya seorang wasit itu harus mampu berlari sejauh 2400m selama 12 menit. Kemudian mereka ikut Kursus C2, dan luluslah mereka dengan kemampuan lari yang bagus. Begitu juga untuk C1. Mana ada kompetisi yang ketat untuk level pengda di Indonesia.
Jadi bisa dibayangkan kualitas wasit yang memimpin di Liga Indonesia. Pengalaman memimpin yang minim dan hanya mengandalkan kemampuan lari sudah bisa dibayangkan kualitasnya. Pengalaman mengambil keputusan di lapangan itu tidak bisa diajarkan dengan teori, tapi itu dipraktekkan berulang-ulang dan dalam tekanan pertandingan yang stabil.
Sekarang mereka kebanyakan tidak mempunyai pengalaman memimpin dilevel yang rendah, langsung diterjunkan di level pertandingan yang tinggi dengan tekanan yang tinggi. Bisa dibayangkan apa yang terjadi.
Yang ketiga adalah masalah sustainability. Kalau ada keberlanjutan sebuah kompetisi dan jelas arahnya yang pada akhirnya si wasit akan merasakan kebutuhan kalau dia memimpin dengan baik akan dipakai dan ditugaskan menjadi wasit, maka mereka akan memimpin dengan baik.
Kesimpulannya adalah, mendidik pemain harus sejalan dengan mendidik wasit. Solusinya ya.. itu tadi.. harus ada kompetisi yang teratur dari tingkat usia muda sampai senior, dengan scope kecil. Hanya itu obatnya. Tidak ada yang lain.
Jadi kinerja wasit yang bobrok adalah ekses dari sistem kompetisi di Indonesia yang tidak pernah mendidik dari usia dini. TIdak ada kompetisi-kompetisi reguler ditingkat lokal, kelompok umur untuk mendidik dan mematangkan semua komponen yang terlibat. Sehingga Liga Indonesia sebagai Universitasnya Sepakbola, tidak bisa menghadirkan kualitas yang diharapkan.
Saya pemegang salah satu lisensi wasit diatas. Teman-teman seangkatan sudah banyak yang naik level. Tapi saya belum mau karena merasa belum matang untuk memimpin. Selain itu hal ini sekaligus protes terhadap proses yang ada. Ada teman yang karena rajin latihan lari (karena dia memang atlet lari) lolos seleksi naik tingkat, sementara pengalaman memimpin dan pengetahuan sepakbolanya masih minim. Padahal (bukan narsis sih) hasil review komisi wasit di tempat saya bernaung, saya termasuk yang cukup tegas memimpin, dan cukup paham peraturan. Kelemahannya hanya difisik. Saya malas latihan.
Untuk itu saya lebih banyak fokus untuk membuat kompetisi di kelompok umur sehingga ada sarana mencari pengalaman bagi teman-teman wasit seangkatan saya.
Saturday, August 30, 2008
Kata-kata yang Memakan Korban Lagi (2)
SAKIT HATI MELIHAT FINAL PIALA KEMERDEKAAN Belum habis rasa tidak percaya dengan kejadian Sriwijaya Air, ada lagi kejadian yang tidak mengenakkan yang terjadi.
Ceritanya begini....
Jumat pagi kemarin, 29 Agustus 2008, aku di telp teman yang dulu aktif mengelola Liga Sekolah Sepakbola di Padang. Dia mengajak menonton Pertandingan Final Sepakbola Piala Kemerdekaan di Gelora Bung Karno.
Dengan spontan waktu itu aku menolak, dengan alasan malas dan takut sakit hati. Kurang lebih kata-katanya begini,"Maleh mah, beko sakik hati manontonnyo". artinya kurang dalam bahasa gaul sehari-hari "Malas ah, yang ada ntar sakit hati lagi nontonnya". Trus dia bilang, "ah tiketnya cuma Rp. 20.000,-". Aku jawab,"ini bukan masalah harga tiket bos, sakit hati ga bisa dihargai dengan uang." Akhirnya dia maklum, karena dia tau kalau aku sangat tidak respek dengan sepakbola Indonesia saat ini, walaupun aku adalah "orang bola".
Awalnya aku berfikir kenapa malas nonton, karena ga enak nonton bola dengan stadion kosong dan tim-tim yang bertanding juga ga berkelas. Selain itu salah satu bentuk protes dan boikot terhadap sepakbola nasional. Dengan menonton, menurut aku kita menyetujui sepakbola Indonesia diurus dengan cara seperti sekarang ini, dan setuju Nurdin Halid tetap jadi Ketua Umum.
Trus apa yang terjadi.
Jumat malam, pada perebutan tempat ketiga antara Indonesia B melawan Myanmar U23, pertandingan hanya berakhir 1-0 untuk Indonesia B. Gol nya pun "gol nyasar" ga ada indahnya sama sekali. Sementara 2x45 pertandingannya sangat membosankan. Banyak yang salah oper, passing bola tidak terarah. Sangat tidak layak untuk pertandingan tim Nasional Masa depan. Ini mungkin sakit hati yang pertama kalau nonton di stadion.
Yang lebih parah adalah pada pertandingan kedua. Antara Tim Nasional Senior Indonesia melawan Tim Libya U23. Pada Babak I, Indonesia sudah ketinggalan 0-1. Babak Kedua pertandingan tidak ada lagi karena Libya mogok bertanding. Hal ini karena terjadi insiden yang pemukulan oleh salah seorang asisten pelatih tim Indonesia terhadap pelatih Tim Libya di lorong kamar ganti pada saat istirahat.
Kalau kejadiannya begitu, siapa yang tidak sakit hati kalau nonton ke GBK. berharap disugukan pertandingan menarik tapi tidak didapat. Kemudian Tim Nas Senior menang, namun ternyata mereka kalah di Babak Pertama, Sementara berharap pertandingan 2x45 menit, ternyata Babak Kedua tidak ada. Dan terakhir, hadirlah juara semu Tim Senior Indonesia, dengan bangganya mengarak piala. Padahal mereka tidak menang.
Yah.. kenapa bisa omongan spontan kembali menjadi kenyataan ya.
Ada apa ini....??
Thursday, August 28, 2008
Kata-kata yang Memakan Korban Lagi
Tadi malam habis pulang dari kantor sekitar jam 10an malam, aku stel TV ada berita tentang kecelakaan Sriwijaya Air.Melihat kejadian itu jadi teringat Kasus Adam Air. Dua hari sebelum Adam Air hilang di Majene awal tahun 2007 yang lalu, aku berencana pulang ke Padang, Karena keusilan aku dengan searching harga tiket di internet, akhirnya dapat tiket yang paling murah dengan Adam Air berangkatnya jam 06.20. Aku nyampe di Bandara Soekarno Hatta kurang dari jam 6 pagi. Logikanya, masih ada waktu donk. Tapi si petugas tidak mau lagi nerima dengan banyak alasan, dan aku di pingpong kesana kemari. Akhirnya masuk satu ruangan yang katanya manager in charge, setelah menunggu lebih 20 menit disana. baru disamperin oleh petugasnya. Waktu itu sudah menunjukkan jam 06.25.
Aku ditanya mau kemana?
Aku jawab "Mau ke Padang".
Trus langsung dia bilang, "Udah full pak, adanya penerbangan terakhir jam 17.00 itu pun ada penambahan biaya hampir satu juta"
Aku bingung. Dalam hati aku bertanya, "Hebat banget nih petugas, bisa tau seat masih tersedia atau tidak dan dengan santainya bilang nambah hampir satu".
Padahal waktu itu harga tiket ekonomi paling mahal ke Padang belum sampai 1 juta.
Akhirnya aku tanya, "Apakah bisa gw bisa ga berangkat dengan penerbangan berikutnya?"
Jawabannya masih tetap bertele-tele.
Aku bilang lagi, "Kalau memang tidak bisa, bilang dari tadi, supaya gw ga kehilangan waktu untuk mencari penerbangan lain".
Dengan kesal gw bilang ke petugas itu : “Kalau begini caranya, saya sumpahin pesawat anda jatuh”.
Trus tiket itu aku remas dan aku banting di hadapan dia. Trus aku berlalu, dan mencari penerbangan lain. Akhirnya dapat Garuda untuk siang harinya.
Malam hari pada tanggal 1 Januari 2007 itu aku nonton TV di rumah di Padang dan mendengar berita kalau pesawat Adam Air hilang. Langsung aku terhenyak dan merinding sekujur tubuhku. Aku tidak habis pikir, kenapa bisa terjadi? Padahal aku tidak pernah marah-marah seperti kejadian di Adam Air pagi itu sebelumnya. Aku sudah sangat sering kecewa dengan Lion Air waktu sering pulang setiap weekend. Tapi tidak pernah emosi begitu.
Nah, untuk kasus Sriwijaya Air (SJ) kemarin, pertengahan bulan Agustus kemarin aku ke Kupang dengan menumpang SJ. Dalam penerbangan itu aku baca majalah Sriwijaya yang tersedia di kursi pesawat itu. Majalah itu memang majalah yang isinya tentang SJ. Di halaman awal, ada sambutan dari Direktur Utama SJ. Disitu ditulis dengan sangat percaya diri, Dirut SJ mengatakan bahwa SJ adalah satu-satunya penerbangan domestic yang tidak pernah mengalami kecelakaan. Waktu itu aku bilang kepada orang yang duduk di sebelahku, “Wah, ini alamat tidak bagus nih. Terlalu percaya diri nih Dirut. Biasanya kalau begini ga akan lama akan terjadi sesuatu.” Orang itu menanggapinya dengan santai karena dia orang Kupang, dan sudah biasa naik SJ. Dia bilang, “ya kalau saya memilih SJ karana cuma SJ yang kasi makanan walaupun snack. Kalau Lion, Mandala dan Merpati cuma air mineral saja". Setelah itu gw juga sempat nervous juga ketika akan mendarat di El Tari, Pesawat digoncang oleh angin Australia sehingga jalannya pesawat tidak stabil. Untung tidak terjadi apa.
Namun setelah menyaksikan berita tadi malam, aku teringat dengan ucapanku di pesawat SJ itu. Kenapa ya? aku bisa ngucapin itu secara spontan saja. Apa mungkin aku harus menjaga ucapanku ya?
Apakah ini anugrah atau cobaan buatku agar lebih hati-hati kalau bicara?
Hiiiiii takut….!
Saturday, August 23, 2008
Membangun Sepakbola Indonesia Masa Depan
Keberadaan Arsenal Football School Di Tangerang dan Real Madrid Football School Rencana Di Pulau Bali tidak akan berbuat banyak untuk perkembangan sepakbola masa depan yang terpadu. Kedua Football School itu hanya pengembangan sayap bisnis mereka saja dan tidak ada hubungannya dengan pembangunan sepakbola Indonesia masa depan. Yang ada hanya pencetak pemain yang syukur-syukur digunakan oleh Arsenal dan Real Madrid.Secara teori, sistem pembinaan yang paling baik itu adalah Kompetisi. Sekarang coba kita liat, apakah ada kompetisi di Indonesia. Jika Indonesia terlalu besar, kita perkecil ke tingkat Provinsi atau Kabupaten/Kota. Apakah kita punya kompetisi yang permanen, lancar, kompetitif dan teratur? Belum lagi kalau ditanyakan apakah ada kompetisi dari kelompok umur paling bawah misalnya dari usia 12 tahun. Jawabannya adalah AMAT SANGAT TIDAK ADA!! Dengan jawaban itu kapan kita bisa berharap akan muncul sepakbola dan pemain sepakbola yang handal? Yang terlihat hanyalah sistem yang instant dan biaya besar seperti tim U17 di Uruguay sekarang, yang hanya mengulangi kesalahan dari PSSI Pratama, Garuda I, Garuda II, Primavera dan Baretti.
Memang ada Danone dan lain-lain membuat turnamen kelompok umur, tapi itu sifatnya temporer dan hura-hura saja. Tidak ada kontribusinya untuk kemajuan sepakbola di Indonesia. Hal ini bisa dibuktikan bahwa Danone sudah berkiprah dari tahun 2002, berarti sekarang sudah 6 tahun. Artinya juga, jika hasil Danone itu bagus, Tim Indonesia Usia 16 s/d 18 tidak akan jadi bulan-bulanan negara lain dalam turnamen resmi.
Dengan tidak adanya kompetisi yang rutin, ketat dan teratur dari Umur 12 tahun, bagaimana kita bisa memberikan pengalaman tanding secara resmi kepada calon-calon pemain masa depan. Seorang pemain atau calon pemain masa depan itu punya standar minimal kuantitas mereka bertanding resmi secara teratur dan terjadwal.
Contohnya, pertanyaan yang bisa dimunculkan adalah berapa kali Bambang Pamungkas bermain dalam pertandingan resmi dari usia 12 tahun. Belum lagi pertanyaannya berapa gol yang sudah diciptakan, asist yang pernah diberikan, kartu kuning atau kartu merah yang didapat. Dengan tidak ada data itu bagaimana kita bisa menjual pemain keluar negeri? Wajar sekali kalau pemain kita tidak punya nilai jual di luarnegeri, selain karena memang secara kualitas tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Kesimpulan dari paparan diatas adalah : yang dibutuhkan saat ini adalah adanya Kompetisi kelompok umur dari 12 tahun sampai 18 tahun. Tidak perlu scopenya terlalu besar untuk seluruh Indonesia, dimulai dulu misalnya di DKI Jakarta atau Jabotabek. Dibuat Kompetisi antar SSB yang ada di Jabotabek dengan Kompetisi yang teratur, permanen dan jangka panjang. Bukan turnamen yang 15 hari habis, tapi betul-betul kompetisi yang selesai dalam 1 tahun.
Kemudian dari kompetisi itu direkam database masing-masing anak-anak calon pemain masa depan itu. Sehingga waktu mereka sudah dewasa, mereka punya track record yang bisa digunakan secara profesional.
Jika cara ini dilakukan akan mengatasi beberapa kendala selama ini ada yaitu :
1. Pemain Indonesia masa depan akan lahir dari kompetisi yang ketat, bukan pemain yang instant.
2. Pemilihan pemain nasional akan lebih fair karena dipilih dari hasil kompetisi dan publik melihatnya. Tidak asal comot berdasarkan rekomendasi dari sana-sini.
3. Pemain yg lahir akan merupakan pilihan terbaik termasuk dari segi mental dan kelakuan. Karena persaingan yang ketat, maka mereka tidak manja dan bertingkah yang aneh-aneh seperti sekarang.
4. Akan ada data pemain yang akurat yang ini bisa dimanfaatkan oleh klub-klub profesional untuk merekrut pemain dan juga berguna bagi jurnalist untuk memperkaya liputan.
5. Dengan kompetisi ini, selain melahirkan pemain, juga pendukung lainnya akan menjadi terasah kemampuannya, yakni para wasit dan pelatih. Wasit punya banyak jam terbang memimpin sehingga dari Kompetisi kelompok umur/usia muda ini akan muncul wasit-wasit yang baik untuk Liga profesional. Begitu juga dengan pelatih. Akan muncul pelatih yang berpengalaman bukan pelatih yang karbitan yang terpilih hanya karena kedekatan dengan Pengurus.
6. Keterlibatan sponsor akan lebih solit karena ada kepastian produk mereka akan sukses dengan mensponsori kompetisi.
7. Pemborosan dana yang dilakukan selama ini dengan mengirim tim keluar negeri dapat ditekan, dan uang yang beredar hanya di dalam negeri. Ini juga berguna untuk ketahanan perekonomian nasional.
Untuk konsep Kompetisi ini sendiri sudah ada, dan terbuka untuk didiskusikan. Jika ada pencinta sepakbola yang peduli dengan sepakbola Indonesia masa depan, kita bisa memulainya, dan setelah 2 kali Olimpiade ke depan, kita sudah punya Timnas U23 yang bisa diandalkan yang pemainnya sudah ditempa selama lebih dari 8 tahun berkompetisi yang ketat.
Jika ini tidak berhasil juga, berarti Teori yang mengatakan bahwa Kompetisi adalah sistem pembinaan yang paling sempurna, patut dipertanyakan.
Dimintakan komentarnya untuk penyempurnaan konsep yang sedang dibangun.
Thanks All..
Thursday, August 21, 2008
Testimoni Aktifasi Telkom Fleksi
Saya pengguna flexi dengan nomor 021 – 33330xxx (nomor agak cantik). Awalnya saya pergi tugas ke luar kota beberapa minggu. Saya bermaksud menggunakan Flexi Combo, dan mengaktifkannya di perjalanan ke Bandara Soekarno Hatta. Di tempat tujuan ternyata nomor flexi saya tidak bisa aktif. Ya sudahlah, karena saya masih punya nomor GSM atau CDMA yg lain yang tidak perlu ganti nomor kalau keluar kota. Di kota lain tersebut, saya tidak mengaktifkan ke Plasa Telkom setempat atau ke pusat layanan lain karena saya menilai hal ini menyusahkan saya.Sekarang setelah saya kembali ke Jakarta ternyata tanpa disadari nomor nya sudah tidak aktif sejak tanggal 10 Agustus 2008 yang lalu. Saya bermaksud mengaktifkan kembali nomor tersebut. Saya coba hubungi layanan 147. Diinformasikan bahwa saya bisa mendatangi Plasa Telkom terdekat dan saya diinformasikan yang terdekat itu di Kebon Sirih Jakarta Pusat. Saya juga menanyakan berapa lama prosesnya. Petugas di 147 mengatakan itu tidak lama dan cukup membawa identitas diri dan nanti akan ada kartu baru.
Kebetulan hari Senin 18 Agustus 2008 saya ke Mal Kelapa Gading (MKG) dan mampir ke flexi centre (saya lupa namanya apa? Apakah Plaza Telkom atau apa?) yang ada di MKG. Ternyata informasi yang ada disana bahwa prosesnya 7 hari dengan biaya Rp. 85.000,- dan akan diganti kartu baru. Saya mengurungkan niat untuk melakukan aktifasi disana. dan saya telp lagi 147. Ternyata infonya masih sama dengan saya telpon sebelumnya yaitu aktifasinya tidak lama, malah bisa ditunggu.
Akhirnya saya ke Plasa Telkom di Kebon Sirih pada pagi hari sekitar jam 9.00 WIB. disana dilayani oleh petugas yang bernama Lala Sartika. Di sana saya serahkan KTP untuk difotocopy dan biayanya (hanya) Rp, 35.000,-. Ms. Lala menginformasikan bahwa aktifasinya 7 hari.. (Wek, kok beda dengan info di Call Centre 147). Saya tanya setelah ini prosesnya apa? Ms. Lala mengatakan bahwa Saya diminta menunggu saja sambil diaktifkan. waktu saya tanya apakah perlu ganti kartu? Ms Lala mengatakan apakah saya masih pegang kartunya? Saya jawab masih. Ms Lala bilang kalau kartu itu masih bisa dipakai.
Saya coba cek di website telkomflexi.com, tidak ada menu keluhan pelanggannya karena saya ingin mengadukannya. Akhirnya saya telpon lagi 147, ternyata di sistem belum ada informasi apa-apa tentang nomor saya?
Dari kejadian diatas, ada beberapa catatan :
1. Untuk perusahaan yang telah lama bermain dalam bisnis telekomunikasi di Indonesia, ada perbedaan informasi dari petugas call center dengan petugas dilapangan.
2. Tidak ada standar yang jelas untuk pelayanan aktifasi kartu flexi.
3. Proses ini sangat ketinggalan dibanding profider lain, dimana kalau profider lain cukup membayar ganti kartu, dan beberapa jam kemudian kartu itu bisa aktif kembali.
4. Apakah sedemikian rumitnya proses aktifasi di era serba digital ini?
5. Sepertinya Telkom belum meninggalkan budaya birokrasi pemerintah yang jelek menjadi budaya kepuasan konsumen. Seakan-akan Telkom masih menjadi pemain tunggal dalam bisnis telekomunikasi retail.
Tuesday, August 19, 2008
Laksamana Cheng Ho - ep. 1
Menonton secara penuh Episode Pertama Laksamana Cheng Ho, Malam Minggu, 16 Agustus 2008 yang lalu ada beberapa hal yang bisa diappresiasi. Hal-hal tersebut antara lain:1. Penggambaran untuk proses kebiriannya terlalu lama. Sehingga menghabiskan waktu. Proses pengkebirian itu juga tidak terlalu penting untuk digambarkan terlalu detail.
2. Pengambilan shootnya yang sangat “pintar” dimana pada saat dialog yang akan menyulitkan dalam proses dubbing, angle kameranya tidak di close up dari depan, tapi di alihkan dari angle yg berbeda. Namun tidak mengurangi makna dan alur cerita yang dibangun. Salut untuk cara ini, dan bisa ditiru untuk dialog-dialog yang sulit oleh pemeran yang kurang berpengalaman.
3. Dalam tulisan pemeran Laksmana Cheng Ho, Yusril Ihza Mahendra dalam Blognya http://yusril.ihzamahendra.com, disebutkan bahwa Pangeran Ming Chui Ti merebut tahta karena marah, yang disebabkan oleh Kaisar Chu Yu Wen banyak melakukan kekejaman.
“Di Beijing Cheng Ho akhirnya menjadi penasehat Pangeran Ming Chui Ti yang suatu ketika menjadi sangat marah, karena ayahnya menunjuk cucunya –yakni putra dari pangeran pertama yang wafat — menjadi kaisar. Ming Chui Ti adalah pangeran kedua yang menurut tradisi China akan menjadi kaisar jika pangeran pertama meninggal lebih dahulu. Kaisar baru, Chu Yu Wen, yang masih muda, ternyata banyak melakukan kekejaman, yang membuat Pangeran Ming Chui Ti tambah marah, sehingga akhirnya dia memberontak melawan Kaisar.”
Tapi yang tertangkap dalam cerita Filmnya bahwa Pangeran Ming Chui Ti marah karena tidak dipilih oleh Kaisar untuk menggantikan menjadi Raja. Kesan yang muncul adalah Ming Chui Ti seorang yang sangat haus kekuasaan. Bukan seorang yang bijaksana dan arif.
Kemudian tidak tergambar sama sekali Kaisar Chu Yu Wen memerintah dengan kejam, yang menjadi alasan bagi Ming Chui Ti untuk memberontak. Padahal ini adalah bagian penting dari peran seorang Ma He, yang menjadi penasehat yang baik. Jika yang digambarkan seperti dalam film, maka Ma He adalah seorang penasehat pemberontak yang haus kekuasaan. Padahal jika lebih digambarkan sedikit pemerintahan Kaisar Chu Yu Wen yang kejam, dan atas itu Ma He menyarankan kepada Pangeran Ming Chui Ti untuk melawan, maka Ma He akan terlihat sebagai penasehat yang cerdas. Karena dalam penggambaran sebelumnya terlihat bagaimana Pangeran Ming Chui Ti sangat bijaksana dan sangat santun menerima tamu-tamu, sementara Ma He digambarkan sebagai orang yang gemar membaca.
Demikian beberapa catatan dalam Penayangan perdana Film Laksamana Cheng Ho di Metro TV.



