Monday, June 15, 2009

BEBERAPA CATATAN TENTANG FILM KCB


Berikut ini, aku mencoba menuliskan beberapa catatan tentang sebuah film yang sedang tayang di Bioskop-bioskop tanah air. Catatan ini bukan dimaksudkan untuk menggiring orang, namun hanya sebagai catatan apa yang aku tau dan apa yang aku rasakan terhadap Film ini. Dan saat tulisan ini ditulis, aku belum menonton film ini. Catatan ini pernah didiskusikan di wall (dinding) facebuk Can Yunazar tanggal 13 Juni 2009, terima kasih Can untuk wallnya.

Catatannya adalah sebagai berikut. :
1. Promosinya sudah terlalu lama. Semenjak diadakannya audisi besar-besaran terhadap calon pemeran film ini. Karena terlalu lama, sehingga bisa sampai pada titik jenuh. Dalam prinsip marketing, promosi yang dilakukan mencapai klimaks pada saat produksi belum mencapai puncaknya yaitu saat penayangan. Akhirnya dikhawatirkan hasilnya menjadi prematur dan antiklimaks. Sangat disayangkan kalau ini terjadi.

2. Ada kesan produksi film KCB ini didasari oleh ketidakpuasan kepada besarnya untung yang diperoleh oleh Produser Ayat-ayat Cinta (AAC), sehingga KCB diproduksi. Demikian juga karena ketidakpuasan terhadap bintang AAC, dengan berbagai alasan. Sehingga diadakanlah kegiatan audisi yang besar-besaran. Ada prinsip profesionalitas yang terabaikan, bahwa segala sesuatu itu diserahkan kepada yang menguasai hal itu. Dan lagi, setiap orang itu punya rezeki masing-masing. Artinya ada rezeki orang lain yang tergantung ke cerita itu.

3. Mengapa harus mengagungkan Mesir? Untuk apa menghabiskan devisi kita untuk memproduksi di Mesir. Seperti diketahui, biaya produksi di Mesir itu sangat besar. Pengalaman yang didapat waktu produksi AAC, menyatakan bahwa biaya produksi di Mesir sangat besar. Ini tidak sejalan dengan kondisi negara kita yang sedang menggalakkan produksi dalam negeri dan menghindari capital flight. Dalam dunia sinematografi, yang penting itu adalah penggambaran bukan lokasi yang riil. Kalau konsepnya seperti KCB, berarti Arnold Schwarzineger harus pergi ke Mars untuk membuat Total Recall. Rekayasa penggambaran yang sempurna dalam menterjemahkan sebuah cerita adalah sebuah Seni tersendiri dalam Sinematografi.

4. Apakah tidak ada lagi lokasi yang eksotis di Indonesia untuk produksi Film. Kalau tentang cerita, apapun bisa dibuat. Di saat orang lain sangat mengagumi keindahan alam kita dan berlomba-lomba untuk melakukan shooting di negara kita, kenapa kita malah mencarinya keluar.

5. Cerita sebuah film dapat dibuat beragam-ragam, tapi tidak terikat dengan lokasi. Jika mengambil tema dan alur yang sama dengan KCB sekarang, itu bisa ganti settingnya dengan setting UIN mungkin tidak perlu Al Azhar, kalau yang dikejar itu adalah ceritanya. Sebagaimana banyak film hollywood yang ceritanya diambil oleh Bollywood.

6. Film bukan media Dokumenter, tapi kekuatannya di cerita. Jadi persoalan lokasi itu tidak terlalu penting. Tapi karena dibuat di luarnegeri, tidak sejalan dengan issu nasionalisme yang sedang berkembang.

7. Film itu adalah bahasa gambar. Kalau bahasa Dokumenter adalah bahasa realita. Kalau logika seperti ini yang dipakai, mungkin Kota New York itu sudah hancur lebur oleh Kingkong. Dalam sinematografi itu yang penting adalah penggambaran terhadap cerita itu logis dan masuk akal, karena yang kita lihat hanyalah visual dua dimensi. Ini yang diabaikan dan sangat dipaksakan.
Kekuatan AAC adalah bagaimana perjuangan pembuat filmnya untuk menterjemahkan ceritanya sehingga orang menjadi tertarik untuk menonton. Bagaimana orang ingin melihat seperti apa Nil yang dicoba untuk ditampilkan yang sebenarnya orang tau itu bukan Nil. Proses bagaimana pencarian ide agar sesuai dengan bentuk aslinya ini, merupakan sebuah nilai plus dalam proses marketing sebuah film. Bagaimana Hanung Bramantyo (HB) menyulap sebuah gerbong yang bergerak, padahal itu digoyang beramai-ramai oleh kru.

8. Ada perbedaan antara sinematografi dengan seni prosa (tulisan/karangan). Sehingga antara pengungkapan cerita melalui bahasa audio visual dengan bahasa prosa itu sangat berbeda. Kita melihat bagaimana Andrea Hirata (AH) begitu terkagum melihat penterjemahan novel dia ke dalam bahasa gambar oleh Tim Miles. Dan AH tidak campurtangan dalam penulisan skenario. Tapi apa yang kita lihat dalam KCB. Ketika AAC, jelas sekali Habiburrahman el Shirazy (HeS) penulis AAC, tidak puas dengan terjemahan ke dalam Film oleh Hanung Bramantyo (HB) dkk. HeS ingin Copy Paste dari cerita novelnya ke dalam Film. Sementara HB berusaha menyesuaikan cerita ke dlm Film dgn prinsip sinematrografi. Sehingga ketika proses KCB, peran HeS sangat dominan untuk mengintervensi proses penulisan cerita film, padahal HeS ini bukan orang film tapi penulis novel. Hal inilah yang membuat aku juga menjadi underestimate terhadap film ini.


Setelah mendengar cerita dari teman-teman yang sudah menonton maka didapat beberapa catatan lagi:

9. Film ini sepertinya bermasalah dalam sinematografi. HeS sepertinya memaksakan pola Novel ke dalam pola film apalagi Film Layar Lebar. Ada perbedaan mendasar antara film layar dengan film layar kaca atau film berseri.
Film layar kaca atau yang lebih dikenal dengan FTV, disini fokusnya lebih kepada jalan cerita. alurnya cepat, karena perilaku orang nonton televisi sangat bebas. Untuk mengikat penonton maka harus diiringi dengan jalan cerita yang ketat. Kalau film berseri, memang orang akan digiring untuk penasaran. Sehingga orang mempunyai keinginan lagi untuk nonton berikutnya. Ini lah sinetron. motivasinya adalah bisnis. Sementara layar lebar, orang mengharapkan sebuah tontonan yang tuntas. Artinya dalam satu kali nonton bioskop itu, org disuguhi sebuah cerita yg tuntas. Untuk kasus KCB, ini layaknya sinetron di layar lebar. Memang banyak film layar lebar yang bersambung, tapi masing-masing filmnya menyuguhkan cerita yg tuntas, sebut saja Harry Potter, Terminator, Lord of Ring. Jadi, dalam film layar lebar, satu permasalahan yang ditampilkan itu harus tuntas, agar orang keluar dari bioskop itu benar-benar terpuaskan. Sifat penonton layar lebar adalah penonton aktif, dimana mereka dengan kesadaran sendiri datang untuk menyaksikan suguhan yang menghibur.Ini akan menjadi kekecewaan ketika orang keluar dari bioskop dengan menggerutu karena ada kata-kata to be continue...

Dalam kasus KCB, terlihat kesan bahwa ada pihak yg ingin mencoba menangguk keuntungan besar. Padahal belum tentu akan untung. Hanya melihat keuntungan besar dari AAC dan LP, maka seakan-akan akan bisa menarik keuntungan dari KCB dan dengan KCB 2.

Aku memberikan apresiasi yang tinggi kepada HeS sebagai seorang yang telah menghasilkan karya-karya besar dalam bidang penulisan karya sastra di tanah air saat ini, khususnya sastra yang islami. Tapi, sebaiknya HeS jgn mencampuri soal sinematografi. Berikanlah itu kepada ahlinya sehingga hasilnya memang layak secara sinematografi. Apa yang dilakukan Hanung adalah sangat fantasis dalam hal sinematografi. Bagaimana caranya HB berusaha menterjemahkan isi AAC. Dan hasilnya dapat kita lihat bagaimana respon masyarakat terhadap AAC.

Catatan ini bukanlah sebuah kebencian terhadap KCB. Ini adalah Mega Film. Karena ini mega film, makanya harus ada kritik, agar karya besar tidak menjadi mubazir. Kritik itu harus dijawab dengan hasil karya yang bagus & lebih sempurna, agar karya itu betul-betul sempurna. Malah, kritik itu harus sudah dimulai dari munculnya ide cerita. Inilah yang dilakukan oleh Miles dkk. Dimana dalam proses penulisan kritik & diskusi untuk perbaikan itu sudah sangat dominan, bahkan sampai tahap post produksi.

Tentang adil atau tidak kritik yang ditujukan, mengingat filmnya baru ditayangkan di bioskop, ketika sebuah karya diumumkan ke publik, saat itulah karya itu terbuka untuk dikritik. Kalau tidak mau dikritik, ya tidak usah dimunculkan ke publik. Simpan saja lah di harddisk atau di museum. Soal etis atau tidak, kritik yang di sampaikan Insya Allah mengemukakan alasan-alasan, dan bukan kritik dengan makian. Dan kritik aku juga terbuka untuk di kritik lagi.

Prinsip diskusi bermanfaat adalah diskusi dengan moderat dan dilandasi oleh semangat kesetaraan, dan yang paling penting adalah saling tukar menukar informasi. Untuk itu, catatan-catatan diatas sangat terbuka untuk didiskusikan.

Bagi yang sudah menonton mudah-mudahan bisa jadi bahan perbandingan. Bagi yang belum menonton, silahkan menontonnya untuk pembuktian. Aku tidak dalam posisi untuk menganjurkan atau menghalangi untuk menonton film ini. Andalah yang menentukan apakah mau menonton sebuah film atau tidak.
Sekali lagi, selamat atas penayangan KCB di bioskop-bioskop. Semoga menambah panjang daftar film-film yang bagus di tanah air. Mohon maaf kalau ada yang tersinggung dan kata-katanya kurang berkenan.
Selengkapnya...

Tuesday, May 26, 2009

detikcom : Olimpiade China Bawa Untung Besar bagi Perusahaan China

title : Olimpiade China Bawa Untung Besar bagi Perusahaan China
summary : Majalah Forbes merilis daftar baru perusahaan-perusahaan terbaik di Asia dengan nilai penjualan di bawah US$ 1 miliar. Perusahaan-perusahaan asal China dan Hong Kong terus merajai daftar. (read more) Selengkapnya...

Saturday, November 22, 2008

Prestasi Timnas Cerminan Pola Pembinaan (Jangan Salahkan Benny Dollo)


Bagi sebagian pencinta sepakbola di tanah air, hasil tim nasional senior dalam kejuaraan Grand Royal Challenge Cup di Myanmar minggu lalu adalah buruk. Tapi ada juga yang menilai hasil ini adalah hasil yang wajar, kejuaraan ini dianggap hanya sebagai pemanasan sebelum Piala AFF. Namun kalau kita melihat secara jernih, kita harus prihatin dengan kondisi ini.

Hasil ini memperlihatkan bahwa untuk kawasan Asia Tenggara saat ini kita yang sudah tertinggal dari Thailand dan Singapura sekarang tidak mampu mengatasi Myanmar. Sementara dengan Vietnam, Laos dan Malaysia masih saling mengalahkan.

Jika kita tidak waspada dan berbenah, bukan tidak mungkin kita juga akan ditinggalkan Vietnam, Laos dan Malaysia dan bahkan akan dikejar oleh Kamboja, Filipina atau Brunei sekalipun. Artinya kita sebagai negara yang berpenduduk paling banyak dan wilayah paling luas di Asia Tenggara menjadi negara yang paling kecil dalam sepakbola

Mengapa hasil tim nasional kita terus menurun dari waktu ke waktu? Padahal dalam dua tahun terakhir, timnas Indonesia telah berganti pelatih sebanyak tiga kali. Mulai dari Peter White, Ivan Kolev dan terakhir Benny Dollo. Hasilnya tetap tidak membaik. Komentar terhadap kualitas dan posisi pelatih mulai bermunculan.

Sebenarnya, siapapun yang menjadi pelatih Timnas Indonesia tidak akan merobah keadaan. Yang menjadi masalah itu bukanlah pelatihnya. Tapi adalah bahan baku pemain. Ibarat orang mau memasak, makanan itu akan lezat jika bahan bakunya berkualitas. Bahan yang ditanam oleh petani atau peternak yang telaten mengurusnya, dengan pemupukan dan pemeliharaan yang baik dan teratur. Dari hasil itulah dipilih bahan baku yang terbaik kemudian diolah oleh tukang masak yang handal. Maka terhidanglah makanan yang lezat dan memuaskan para penikmatnya.

Begitu juga dengan prestasi Timnas yang merupakan perwujudan atau cerminan dari pola pembinaan sepakbola suatu negara mulai dari usia yang sangat dini. Dan kompetisi adalah bentuk pola pembinaan yang terbaik itu. Ini saling berkait dan jangan dibalik. Kalau orang mengatakan bahwa hanya kompetisi profesional yang mencerminkan prestasi Tim Nasional, ini akan terbantahkan dengan kasus persepakbolaan Inggris saat ini. Tapi pola pembinaan usia dini melalui kompetisilah yang baik dan teraturlah yang menjadi kunci keberhasilan prestasi sebuah tim nasional.

Sekarang yang banyak di Indonesia adalah pemain yang ngotot tapi minim skill, dan pemain yang kaya teknik tapi miskin mental bertanding. Kedua masalah ini adalah perwujudan dari pola pembinaan tadi, dan hanya bisa diatas dengan membangun pola pembinaan sepakbola masa depan yang baik dari usia dini melalui kompetisi yang ketat dan teratur.

Prosesnya tidak bisa sebentar, butuh minimal 12-15 tahun. Ini dengan asumsi jika kita mulai sekarang pada anak-anak usia 12 tahun, maka 12-15 tahun mendatang mereka berusia 24-27 tahun. Ini adalah masa keemasan bagi pemain sepakbola. Di saat inilah kita baru bisa melihat hasilnya.

Kapan kita bisa mencapai itu? Pertanyaannya kapan kita melakukan pembinaan mulai usia 12? Dari situlah kita mulai berhitung. Jika kita tidak pernah tahu kapan mulainya, berarti tambah mundurlah waktu "panen"nya. Dan pembinaan itu haruslah melalui mekanisme kompetisi. Bukan melalui pelatnas.

Hasil yang dicapai tim nasional saat ini, membantah pola pembinaan sepakbola nasional selama ini. Di mana kita sering membuat pelatnas-pelatnas jangka panjang untuk kelompok umur. Kita pernah membuat pelatnas pemain yunior di Medan dengan tim pelatih yang didatangkan dari Inggris dibawah kepemimpinan Jim Bryden. kemudian pernah tim yunior U23 dikirim ke Belanda yang ditangani oleh pelatih kenamaan dari Belanda Foppe De Haan.

Bahkan dalam saat itu dalam sebuah wawancara, pelatih Foppe De Haan mempunyai kesimpulan dan menjadi judul berita dengan kop yang besar. “Mereka tidak tahu caranya mencetak gol!" (Sindo 2/8/06)

Hasil binaan pelatnas ini yang menjadi pilar tim nasional saat ini. Hasilnya tidak seperti yang diharapkan, dan malah membenarkan kesimpulan dari De Haan. Artinya pola pembinaan yang dilakukan selama ini bukan pola pembinaan yang ideal dan benar. Yang menjadi kebutuhan saat ini adalah, bagaimana menciptakan pembinaan sejak usia dini melalui jalur kompetisi yang ketat dan teratur. Barulah kita bisa berharap prestasi kepada tim nasional sepakbola kita.

Jadi, kalau kita meminjam sebagian ungkapan yang sering disampaikan oleh seorang Dai kondang beberapa tahun yang lalu, Indonesia harus merobah pola pembinaan sepakbolanya mulai dari usia dini, mulai dari area yang kecil dan mulai dari sekarang. Jika tidak, kita akan semakin tertinggal, terpuruk dan semakin terperosok ke dalam jurang yang lebih dalam.
Selengkapnya...

Wednesday, September 24, 2008

Kinerja Wasit Indonesia, Ekses dari Sistem Kompetisi


Di setiap pergelaran Liga Indonesia ataupun pertandingan-pertandingan sepakbola lainnya di Indonesia, wasit selalu dianggap menjadi penyebab terjadinya kericuhan. Padahal kita tidak pernah tahu proses ideal lahirnya seorang wasit. Sistem kompetisi di tanah air lah yang mempunyai kontribusi terhadap kualitas wasit yang memimpin.

Jika mendapatkan seorang pemain bagus dan berkualitas tidak bisa hanya dengan melatih dia bertahun-tahun. Tapi berlatih dan bertanding yang teratur. Begitu juga dengan Wasit. Tidak ada Pil yang mujarab, tidak ada sekolah yang paten untuk melahirkan seorang wasit langsung jadi. Banyak aspek yang mempengaruhi. Tapi bisa digolongkan kepada 3 hal besar :
1. Input
2. Proses
3. Suistainability (keberlanjutan).

Input adalah dari mana si wasit itu berasal. Kalau di negara maju, wasit itu dididik dari saat dia duduk di bangku kuliah. Makanya banyak wasit yang sudah TOP di Eropa itu berprofesi sebagai Banker, pengacara, manager dll. Secara intelektualitas sangat bagus dan mereka sudah mapan. Sistem pendidikan disana juga berbeda dengan kita, faktor kepemimpinan juga mempengaruhi si calon wasit itu. Dan lagi, bagi mereka menjadi wasit hanya sampingan dan hobby.

Bahkan di Amerika Serikat, wasit dimulai dari umur 14 tahun. mereka itu memimpin kompetisi kelompok umur 12 tahun. Umur 18 tahun memimpin umur 16 tahun. Jadi mereka juga ada jenjang sendiri mengikuti jenjang pemain. Untuk menjadi wasit pun mereka menjalani psikotes selain test fisik

Sementara di Indonesia, wasit itu berasal dari pengangguran, tentara atau guru (guru olahraga). Yang penting pintar lari maka loloslah jadi wasit. Karena kekurangan pertandingan yang reguler, orang-orang yang berintelektualitas yang tinggi menjadi malas untuk jadi wasit.

Yang kedua adalah proses. Wasit kita setelah dapat sertifikat C3, karena tidak jelasnya pertandingan, sehingga mereka memimpin Tarkam. Disini mental mereka sudah dirusak. Jadwal memimpin juga tidak pasti. Sehingga jam memimpin mereka menjadi minim. Idealnya seorang wasit dengan lisensi C3 itu memimpin pertandingan resmi minimal 40 kali setahun untuk level Pengcab (perserikatan) dan dia harus melaluinya selama 2 tahun.

Setelah 2 tahun naik ke Lisensi C2 dengan ikut kursus peningkatan lisensi. Setelah lulus dan memiliki Lisensi C2, maka dia juga diharuskan memimpin minimal 40 kali dalam 1 tahun untuk level Pengda. Ini juga harus dilalui si Wasit idealnya minimal selama 2 tahun, setelah itu baru dia bisa ikut Kursus C1 untuk wasit nasional dan berhak memimpin di Liga Indonesia. Namun tidak semua yang ikut kursus akan lulus begitu saja. Ada juga yang lulus bersyarat.


Inilah proses ideal yang harus dilalui oleh seorang wasit untuk bisa memimpin di liga Indonesia. Prakteknya bagaimana?

Kita tahu kalau tidak ada kompetisi yang teratur di Indonesia. Sudah barang tentu tidak ada wasit yang bisa memenuhi standar minimum tersebut diatas. Jadi mereka setelah lulus C3, memiimpin sekali-sekali, namun rajin latihan lari. karena standarnya seorang wasit itu harus mampu berlari sejauh 2400m selama 12 menit. Kemudian mereka ikut Kursus C2, dan luluslah mereka dengan kemampuan lari yang bagus. Begitu juga untuk C1. Mana ada kompetisi yang ketat untuk level pengda di Indonesia.

Jadi bisa dibayangkan kualitas wasit yang memimpin di Liga Indonesia. Pengalaman memimpin yang minim dan hanya mengandalkan kemampuan lari sudah bisa dibayangkan kualitasnya. Pengalaman mengambil keputusan di lapangan itu tidak bisa diajarkan dengan teori, tapi itu dipraktekkan berulang-ulang dan dalam tekanan pertandingan yang stabil.

Sekarang mereka kebanyakan tidak mempunyai pengalaman memimpin dilevel yang rendah, langsung diterjunkan di level pertandingan yang tinggi dengan tekanan yang tinggi. Bisa dibayangkan apa yang terjadi.

Yang ketiga adalah masalah sustainability. Kalau ada keberlanjutan sebuah kompetisi dan jelas arahnya yang pada akhirnya si wasit akan merasakan kebutuhan kalau dia memimpin dengan baik akan dipakai dan ditugaskan menjadi wasit, maka mereka akan memimpin dengan baik.

Kesimpulannya adalah, mendidik pemain harus sejalan dengan mendidik wasit. Solusinya ya.. itu tadi.. harus ada kompetisi yang teratur dari tingkat usia muda sampai senior, dengan scope kecil. Hanya itu obatnya. Tidak ada yang lain.

Jadi kinerja wasit yang bobrok adalah ekses dari sistem kompetisi di Indonesia yang tidak pernah mendidik dari usia dini. TIdak ada kompetisi-kompetisi reguler ditingkat lokal, kelompok umur untuk mendidik dan mematangkan semua komponen yang terlibat. Sehingga Liga Indonesia sebagai Universitasnya Sepakbola, tidak bisa menghadirkan kualitas yang diharapkan.

Saya pemegang salah satu lisensi wasit diatas. Teman-teman seangkatan sudah banyak yang naik level. Tapi saya belum mau karena merasa belum matang untuk memimpin. Selain itu hal ini sekaligus protes terhadap proses yang ada. Ada teman yang karena rajin latihan lari (karena dia memang atlet lari) lolos seleksi naik tingkat, sementara pengalaman memimpin dan pengetahuan sepakbolanya masih minim. Padahal (bukan narsis sih) hasil review komisi wasit di tempat saya bernaung, saya termasuk yang cukup tegas memimpin, dan cukup paham peraturan. Kelemahannya hanya difisik. Saya malas latihan.

Untuk itu saya lebih banyak fokus untuk membuat kompetisi di kelompok umur sehingga ada sarana mencari pengalaman bagi teman-teman wasit seangkatan saya.
Selengkapnya...

Saturday, August 30, 2008

Kata-kata yang Memakan Korban Lagi (2)

SAKIT HATI MELIHAT FINAL PIALA KEMERDEKAAN

Belum habis rasa tidak percaya dengan kejadian Sriwijaya Air, ada lagi kejadian yang tidak mengenakkan yang terjadi.

Ceritanya begini....

Jumat pagi kemarin, 29 Agustus 2008, aku di telp teman yang dulu aktif mengelola Liga Sekolah Sepakbola di Padang. Dia mengajak menonton Pertandingan Final Sepakbola Piala Kemerdekaan di Gelora Bung Karno.

Dengan spontan waktu itu aku menolak, dengan alasan malas dan takut sakit hati. Kurang lebih kata-katanya begini,"Maleh mah, beko sakik hati manontonnyo". artinya kurang dalam bahasa gaul sehari-hari "Malas ah, yang ada ntar sakit hati lagi nontonnya". Trus dia bilang, "ah tiketnya cuma Rp. 20.000,-". Aku jawab,"ini bukan masalah harga tiket bos, sakit hati ga bisa dihargai dengan uang." Akhirnya dia maklum, karena dia tau kalau aku sangat tidak respek dengan sepakbola Indonesia saat ini, walaupun aku adalah "orang bola".

Awalnya aku berfikir kenapa malas nonton, karena ga enak nonton bola dengan stadion kosong dan tim-tim yang bertanding juga ga berkelas. Selain itu salah satu bentuk protes dan boikot terhadap sepakbola nasional. Dengan menonton, menurut aku kita menyetujui sepakbola Indonesia diurus dengan cara seperti sekarang ini, dan setuju Nurdin Halid tetap jadi Ketua Umum.

Trus apa yang terjadi.
Jumat malam, pada perebutan tempat ketiga antara Indonesia B melawan Myanmar U23, pertandingan hanya berakhir 1-0 untuk Indonesia B. Gol nya pun "gol nyasar" ga ada indahnya sama sekali. Sementara 2x45 pertandingannya sangat membosankan. Banyak yang salah oper, passing bola tidak terarah. Sangat tidak layak untuk pertandingan tim Nasional Masa depan. Ini mungkin sakit hati yang pertama kalau nonton di stadion.

Yang lebih parah adalah pada pertandingan kedua. Antara Tim Nasional Senior Indonesia melawan Tim Libya U23. Pada Babak I, Indonesia sudah ketinggalan 0-1. Babak Kedua pertandingan tidak ada lagi karena Libya mogok bertanding. Hal ini karena terjadi insiden yang pemukulan oleh salah seorang asisten pelatih tim Indonesia terhadap pelatih Tim Libya di lorong kamar ganti pada saat istirahat.

Kalau kejadiannya begitu, siapa yang tidak sakit hati kalau nonton ke GBK. berharap disugukan pertandingan menarik tapi tidak didapat. Kemudian Tim Nas Senior menang, namun ternyata mereka kalah di Babak Pertama, Sementara berharap pertandingan 2x45 menit, ternyata Babak Kedua tidak ada. Dan terakhir, hadirlah juara semu Tim Senior Indonesia, dengan bangganya mengarak piala. Padahal mereka tidak menang.

Yah.. kenapa bisa omongan spontan kembali menjadi kenyataan ya.

Ada apa ini....??
Selengkapnya...

 
© 2008 free template by kangrohman modification by agungwasono